jantung atau hati, patah hati atau patah jantung?

Dalam bahasa Indonesia, kita selalu menyebut 'hati' untuk merujuk makna 'qalb' (atau kita tulis saja qalbu) dalam bahasa Arab. Seperti halnya dalam kalimat: manajemen qalbu, manajemen 'hati', atau istilah penyakit qalbu, penyakit 'hati', dstnya, dsbgnya.

Lantas kita juga selalu merujuk 'hati' juga untuk padanan kata 'heart' dalam bahasa inggris. panah asmara menembus gambar 'hati', atau jatuh 'hati', atau 'hatiku sakit sekali', atau broken heart, patah hati, atau film tentang 'heart', hati, dstnya, dsbgnya.

Padahal qalbu dan hearts jika dimaksukan sebagai organ tubuh, maka dalam definisi aslinya adalah jantung.

'Hati' adalah liver (dlm bahasa inggrisnya), yg berfungsi sbg organ ekskresi, detoksifikasi, dll seperti ginjal. Hati memproduksi empedu, dan lain-lain. Sedangkan jantung, berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh manusia. bentuk dan fungsi dua organ ini amat berbeda.

Kekeliruan rujukan seperti ini bisa jadi serius, bisa jadi biasa-biasa saja. Jadi serius, kalau kita mempelajari tentang 'qalbu' secara detail dan komprehensif--bukan sekadar urusan organ tubuh. Misalnya, pertanyaan iseng: lantas dimanakah qalbu itu berada? apakah di otak? atau di organ tubuh lainnya? liver? jantung? Dan akan jadi semakin luas, saat membahas tentang nafs (nafsu). Setidaknya ada lima elemen nafs: qalbu, 'aql, ruh, bashirah, dan fithrah. Kaki-kakinya semakin banyak, dan semakin menakjubkan untuk dipelajari. Bagaimana kelima elemen tersebut membentuk, mengendalikan, membesarkan atau memperkecil nafsu (definisi nafs, tdk selalu mengacu pada nafsu buruk, dia berpasangan dgn nafsu yg baik juga).

Tapi urusan salah rujukan kata hati ini tentu saja biasa2 saja, karena kita tidak akan membahas soal ini secara mendalam di notes yg pendek ini, lagipula tidak semua punya waktu utk memahaminya, kita semua sibuk, sebentar lagi ada film Jet Li diputar di tipi (ya ampun, setiap malam jackie chan muncul di tipi), atau sibuk update status, reply komen, sibuk menunggu komen dibalas, dsbgnya.

Yg ingin sy bahas sederhana saja, yaitu, soal cinta--klasik. Apa itu cinta? Orang-orang bilang, cinta datang dari mata turun ke hati (dlm hal ini maksudnya tentu saja qalb, heart, 'jantung'). Kenapa kita hanya jatuh hati ke orang2 tertentu? kenapa kita tdk misalnya, jatuh hati ke orang2 afrika, yg berambut gimbal, hitam, kurus, bertemu dgn mereka tiba-tiba tuing, jatuh hati. Kenapa kita tidak jatuh hati ke nenek2, ibu2? Eh, maksud sy bukan sedang menjelek2an hal tertentu, maksudnya adalah kenapa jatuh hati itu harus spesifik?

Bukankah teman di sekolah/kampus kita ratusan, ribuan malah, kenapa kita harus jatuh hati ke seseorang? Kita menemui banyaaak sekali lawan jenis dalam hidup ini, kenapa perasaan itu, kuch-kuch hota hai dgn seseorang secara spesifik, bukan yg lain? Atau dalam kasus ekstrem, kenapa ada orang yg malah jatuh hati ke sesama jenis? Bukankah perasaan itu tidak kita undang? Siapa pula yg mau jatuh hati ke sesama jenis?

Nah, teori dan pemahaman yg banyak dipegang orang adalah: bahwa perasaan tersebut muncul begitu saja tanpa penjelasan apapun. Pokoknya jatuh hati itu spesial. terjadi begitu saja. spesial deh, tidak bisa disamakan dgn urusan suka yg lain. Pokoknya saat cinta datang lewat mata, turun ke hati prosesnya terjadi begitu saja.

Dan karena urusan ini terus menerus diberikan lebih banyak prioritas, maka orang2 semakin melupakan bahwa dalam mekanisme nafs, jatuh hati atau cinta, sebenarnya boleh jadi, sama saja dgn mekanisme ketika kita marah, sedih, suka makan bakso, tidak suka makan nasi goreng, dsbgnya, dstnya seperti mekanisme nafs lainnya. Apanya yg terjadi begitu saja kalau kenyataannya kita sebenarnya 'memilih' saat jatuh cinta? Mata memilih, hati juga memilih, bukan?

Sy tidak akan memberikan kesimpulan atas notes ini, karena butuh penjelasan yang panjang hingga kita sama-sama saling mengerti. Sy hanya akan mengajak kita semua rajin-rajin memperhatikan sekitar. misalnya: Bagaimana cara saudara2 kita yg buta memahami cinta? Mereka tidak punya mata, tapi mereka tetap jatuh hati, bukan? Atau: apakah cinta itu selalu 'suci'? seperti halnya cerita si ular putih, siluman, yg naksir berat sama manusia, lantas terpaksa berurusan dgn biksu jet li yg sakti itu? Apakah cinta itu selalu di benarkan? Bebas dari keinginan? Atau jangan2 cinta itu sebenarnya argumen, pembenaran, dan ketidakberdayaan kita mengendalikan sesuatu.

Apakah itu patah jantung, eh maksud sy patah hati? Kenapa banyak orang yang seperti kehilangan seluruh semangat hidupnya karena patah hati? Padahal sebenarnya mereka tidak kehilangan apapun bukan? tidak cacat, kehilangan harta benda, kebebasan, dsbgnya. maka, belajarlah dari sekitar, mendengarkan cerita orang2 di sekitar, mengamati kelakuan orang yg sedang jatuh cinta. sstt, jangan tanya ke orangnya ybs, tapi tanyalah ke teman dekat orang yg jatuh cinta tsb--karena biasanya kalau ada yg sedang jatuh cinta, yg sering jadi sansak curhat, ikutan sibuk, kadang sebal, tahu banyak justeru temannya.

Sekali-kali, kumpulkan pertanyaan seperti: apa itu cinta? apakah dia titik atau koma? apakah dia bercabang atau tidak? tidak tahu jawabannya juga tidak apa, dengan terus rajin-rajin memperhatikan sekitar, maka kita menghadirkan akal sehat dan rasionalitas dalam memahami urusan ini, dan boleh jadi punya versi yg lebih baik jawabannya.

Sebagai penutup, sy ingin bilang, kalian pernah mendengar kata 'membolak-balikkan hati'? semua orang suka rahasia kan? nah, sy beritahu rahasia kecil--kayaknya page sy ini lama2 jadi pembocor rahasia terbanyak. Rahasianya adalah: ada banyak sekali kejadian, pagi ini kita cinta sekali dgn seseorang, nanti malam kita sudah amat benci padanya. Malam ini kita benci sekali dgn seseorang, besok pagi kita sudah cinta berat padanya. ya ampun? itu benaran terjadi? tentu saja!! itu banyak terjadi malah. karena ketahuilah, 'membolak-balikkan hati' adalah urusan Tuhan, sebagaimana Tuhan juga yg mampu meneguhkannya.

Catat kalimat terakhirnya, lantas baca ulang seluruh kisah perasaan kita selama ini dgn kalimat tersebut

{ 0 komentar... read them below or one }

Posting Komentar