Puasa, Ujian Kejujuran Diri

Pesan-Pesan Kejujuran Ki Blaka  

Oleh Armin Mustamin Toputiri  

Sore tadi, akhirnya saya berhasil juga menuntaskan bacaan sebuah novel menarik, “Blakanis” karya Arswendo Atmowiloto (Gramedia Pustaka Utama, 2008). Dan sejujur-jujurnya, ini juga salah satu prilaku tak jujur bagi saya dalam memaknai Ramadhan sebagai bulan penuh rahmah dan magfirah, dimana seharusnya banyak waktu saya habiskan untuk membaca kitab suci al-Qur’an, dibanding memanfaatkan dengan membaca novel. Makanya --- sebaiknya --- jangan ditiru.  

Novel setebal 283 halaman ini saya katakan menarik karena mengisahkan kehidupan kampung Blaka yang diayomi seorang figur kharismatik, bernama Ki Blaka. Ia seorang yang masa lalunya kelam, tapi kemudian memilih menghuni sebuah lahan kosong yang tidak jelas pemiliknya, di sanalah ia menghabiskan waktu hingga masa tuanya dengan cara dan selalu berdaya upaya membina keterbukaan diri dan berusaha menjujurkan diri. Terutama jujur pada dirinya sendiri.

Kampung Blaka mulanya dihuni beberapa orang saja, namun belakangan ramai dikunjungi orang dari berbagai latar jabatan dan profesi. Tak lain karena merindukan kejujuran diri, bosan bergelimang kepalsuan. Kampung Blaka memang mentradisikan kejujuran bagi siapa saja yang memasuki wilayah itu. Tapi sekalipun demikian, tak ada sanksi bagi yang tak mau jujur. Apalagi mau menuntut kejujuran orang lain. Terlebih lagi mengatakan diri paling jujur.

Kata Ki Blaka, “Bersikap jujur adalah pilihan pribadi. Kejujuran tak berarti menjadi sakti, menjadi kebenaran ketika dilakukan banyak orang, apalagi menjadi gerakan. Kalau itu yang membesar dan dianggap sebagai tanda, kita mengulangi lagi kesalahan” (hal. 114). Ki Blaka juga berpesan bahwa kejujuran janganlah dipaksakan dan mempersulit diri. Yang penting kata Ki Blaka, hati kita berniat jujur dan mau melakukan. Sejauhmana kita jujur, yang menandai adalah diri sendiri.  

Kejujuran kata Ki Blaka, tak harus dibandingkan dengan ukuran umum, sehingga menilai diri kita lebih jujur dari orang lain. Keadaan seperti itu sangat berbahaya, karena “sesungguhnya musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan, melainkan kepura-puraan. Baik pura-pura jujur, maupun pura-pura bohong” (hal. 93) . Dan menamatkan novel ini, saya mendapat pembelajaran bahwa kejujuran dimulai dari peka sosial, lalu coba berjujur diri, lalu dihadirkan di tengah masyarakat tanpa pamrih dan pretensi.    

Makassar, 15 Ramadhan 1434 H

{ 0 komentar... read them below or one }

Posting Komentar